Di sebuah gang sempit yang kalau malam lebih sunyi daripada grup keluarga setelah debat politik, berdirilah sebuah rumah kos tua bernama Kos Melati. Nama Melati terdengar anggun dan harum, tetapi kondisi bangunannya lebih mirip kenangan mantan yang belum sempat direnovasi. Cat temboknya mengelupas, pagar depannya berdecit seperti sedang curh